Sabtu, 23 Mei 2015

Thanks God

Kali ini mungkin post-nya sedikit berbeda dari biasanya. Ngepost cerpen ga apa lah yah hahaha.. Tau kan yah cerpen itu apa? Yap! Cerita Pendek.
Cerpen ini sebenarnya aku buat waktu masih kelas 3 SD, cuman yah taulah gimana kalau anak SD buat cerita sedikit amburegul. Jadi aku revisi dan lumayanlah wkwk

Judulnya Thanks God. So, here u go..



Thanks God

Terik matahari berada hampir di sebelah barat. Tepat pukul 02.00 PM, aku baru pulang dari sekolah dijemput oleh Papaku. Sesampainya aku di rumah, aku mengucap salam kepada Mamaku.
“Ma, aku pulang..” kataku sambil melempar tas ransel yang berat itu di sofa.
“Wah anak mama uda pulang. Herlin sudah makan kah?” tanya Mama lembut.
“Belum, Ma. Emang, Mama hari ini masak apa? Soalnya aku lapaaarr bangett, tadi pagi lupa sarapan, di sekolah cuman makan Chitato 1 bungkus” kataku segera ke dapur.
”Mama kan uda sering bilang, kamu harus sarapan setiap hari, agar perut kamu tidak kosong dari semalaman tidur. Mama masak tahu goreng, tempe goreng, ikan goreng, dan sayur bayam. Mama juga ada buat sambal kesukaan kamu loh. Ikan goreng kalau dimakan dengan sambal pasti enak, soalnya tadi Mama sudah makan ikan pakai sambal” kata Mama menghampiriku.
 “HAH? Iiih, aku ngga mau makan kalau gituu. Padahalkan, tadi aku ngehayalin hari ini Mama masak ayam goreng, sekalinya Mama masak makanan begituu, aku kan ga suka!” bentakku.
 “Kamu harus makan kalau tidak kamu akan sakit. Ayolah coba makan sedikit saja, pasti enak” kata Mama.
 “Ngga, aku ngga mau makan!” bentakku sekali lagi sambil berlalu masuk ke kamar.
Mama hanya terdiam. Mama tau dan mengerti sikapku yang ambekan dan ngga tahu menahu usaha seseorang terhadap diriku. Aku lain dari pada yang lain. Aku anak satu-satunya yang paling buruk dalam segi sifat dibanding keempat kakakku.


***

 “Lapaarr, yaelahh. Kalau tau begini mah mending makan di skolah ajaa. Sedih yaa punya orangtua yang sulit punya waktu untuk masak makanan yang enak sperti anak-anak lainnya” ucapku sambil mengambil remote TV dan menyetelnya.
Saat TV sudah menyala, tanpa disengaja, acara yang sedang disiarkan channel  Trans 7 adalah acara “Orang Pinggiran”
Mataku tertuju pada acara yang sebenarnya aku sama sekali tidak tertarik. Tanpa disuruh, mataku melihat seorang anak kecil laki-laki hidup tanpa merasakan kasih sayang orangtua dan harus tinggal bersama kakeknya yang sudah berumur 80 tahun. Dia masih duduk di bangku SD kelas 3. Anak kecil itu menjadi anak yatim piatu yang bekerja mencari nafkah untuk biaya pengobatan kakeknya yang sudah tua dan tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya berbaring di atas papan kecil yang menjadi tempat tidurnya.
Sepulang sekolah, dia bekerja mencari kotoran hewan, memungutinya, dan mengumpulkannya lalu dijual kepada produsen perusahaan pupuk. Dia melakukan semua kegiatannya itu setiap hari. Dia juga berusaha melakukan yang terbaik agar menyenangkan hati kakeknya. Pada saat jam makan, dia dan kakeknya hanya bisa makan sisa nasi dan daging ayam dari produsen pembuatan pupuk, dan terkadang, dia dan kakeknya hanya bisa makan nasi yang dicampuri garam.
Walaupun dia masih belia, tapi dia tidak kenal lelah, tidak kenal dengan yang namanya menyerah. Karena dia masih punya mimpi untuk menjadi dokter, dan dia yakin segala sesuatu tidak ada yang mustahil.
Tayangan itu membuatku perlahan meneteskan air mata. Aku terharu. Aku menangis tersedu. Siapa sangka? Siapa sangka, anak kecil kelas 3 SD tanpa orangtua sudah bekerja mencari uang untuk kelangsungan hidupnya dan kakeknya? Aku tidak. Aku ngga bisa membayangkan, bagaimana sulitnya hidup anak kecil itu jikalau kakeknya meninggalkan dia. Aku ngga bisa membayangkan bagaimana caranya dia untuk dapat bertahan dengan kondisi seperti itu.
Aku sadar. Aku harusnya bersyukur sama Tuhan. Aku masih mempunyai orangtua, masih bisa merasakan kasih sayang mereka, masih bisa makan lauk yang enak, semua kebutuhanku dicukupkan, dan ngga perlu bekerja. Aku tak pantas marah pada Mama. Aku tak pantas mengeluh. Aku berdosa. Aku pun langsung berdoa, memohon ampun dan bersyukur atas semua yang sudah Tuhan berikan untukku.
“Bapa di dalam Kerajaan Surga. Aku memohon ampun pada-Mu. Aku berdosa. Aku tadi membentak Mamaku. Aku minta maaf karena seharusnya aku tidak begitu. Tolong ampuni aku. Harusnya aku bersyukur masih memiliki Mama dan Papa di hidupku, masih bisa merasakan kasih sayang mereka, masih bisa makan, kebutuhanku semua tercukupi tanpa harus bekerja. Aku tau aku bersalah, maka dari itu tolong ampuni aku. Tolong ubah hidupku menjadi yang baru. Menjadi anak yang bisa bersyukur atas segala sesuatu yang aku miliki. Bapa, mungkin di luar sana masih banyak yang ingin menjadi aku, menginginkan kehidupan yang layak seperti yang aku rasakan, berkati mereka Bapa, lindungi mereka dimanapun dan kapanpun mereka berada. Berikan berkat yang melimpah pada mereka dan tolonglah jika ada sesuatu yang akan terjadi pada mereka nantinya. Dalam nama Tuhan Yesus, aku sudah berdoa. Amin!”
Setelah selesai berdoa, aku keluar kamar dan menemui Mamaku. Aku memeluk Mama dan meminta maaf padanya.
“Maa, aku minta maaf yaa.Aku tadi jahat sama Mama. Aku mau berubah kok. Aku mau menjadi anak yang turut sama Mama. Jadi anak yang bisa bersyukur untuk segala sesuatu. Bersyukur karena Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk bisa memiliki Papa dan Mama. Maaf ya, Ma” peluk dan sesalku.
“Iyaa, Herlin. Mama maafin kamu kok. Sekarang kamu makan yaa, kamu pasti lapar” ucap Mama lembut mengelus rambutku.
“Iya Maa. Makasih yaa, Ma” kataku.
Terlihat raut wajahnya melebarkan bibirnya, Mama senang sekali. Mama tau dan yakin bahwa Tuhan akan mengubah hidupku. Mama tau Tuhan akan campur tangan dan membantuku untuk menjadi yang baru.
Mungkin banyak temanku memiliki semua barang yang diinginkan, tapi aku tidak bisa mencapainya dengan mudah. Aku tidak kaya. Aku tidak memiliki rumah yang mewah dan harta yang melimpah. Tapi aku yakin, aku kaya di dalam Tuhan.

‘No matter how good or bad you think life is, wake up each day and be thankful for life. Someone somewhere else is fighting to survive. Dear God, thankyou for everything J


Tamat



Cerpen ini hanyalah cerita fiktif belaka. Saya mohon maaf apabila ada kesamaan ide dengan cerita saya. Thanks for reading ^^




HK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar