Cerpen ini sebenarnya aku buat waktu masih kelas 3 SD, cuman yah taulah gimana kalau anak SD buat cerita sedikit amburegul. Jadi aku revisi dan lumayanlah wkwk
Judulnya Thanks God. So, here u go..
Thanks
God
Terik matahari berada
hampir di sebelah barat. Tepat pukul 02.00 PM, aku baru pulang dari sekolah
dijemput oleh Papaku. Sesampainya aku di rumah, aku mengucap salam kepada
Mamaku.
“Ma, aku pulang..”
kataku sambil melempar tas ransel yang berat itu di sofa.
“Wah anak mama uda
pulang. Herlin sudah makan kah?” tanya Mama lembut.
“Belum, Ma. Emang, Mama
hari ini masak apa? Soalnya aku lapaaarr bangett, tadi pagi lupa sarapan, di
sekolah cuman makan Chitato 1 bungkus” kataku segera ke dapur.
”Mama kan uda sering
bilang, kamu harus sarapan setiap hari, agar perut kamu tidak kosong dari
semalaman tidur. Mama masak tahu goreng, tempe goreng, ikan goreng, dan sayur
bayam. Mama juga ada buat sambal kesukaan kamu loh. Ikan goreng kalau dimakan
dengan sambal pasti enak, soalnya tadi Mama sudah makan ikan pakai sambal” kata
Mama menghampiriku.
“HAH? Iiih, aku ngga mau makan kalau gituu.
Padahalkan, tadi aku ngehayalin hari ini Mama masak ayam goreng, sekalinya Mama
masak makanan begituu, aku kan ga suka!” bentakku.
“Kamu harus makan kalau tidak kamu akan sakit.
Ayolah coba makan sedikit saja, pasti enak” kata Mama.
“Ngga, aku ngga mau makan!” bentakku sekali
lagi sambil berlalu masuk ke kamar.
Mama hanya terdiam.
Mama tau dan mengerti sikapku yang ambekan dan ngga tahu menahu usaha seseorang
terhadap diriku. Aku lain dari pada yang lain. Aku anak satu-satunya yang
paling buruk dalam segi sifat dibanding keempat kakakku.
***
“Lapaarr, yaelahh. Kalau tau begini mah
mending makan di skolah ajaa. Sedih yaa punya orangtua yang sulit punya waktu
untuk masak makanan yang enak sperti anak-anak lainnya” ucapku sambil mengambil
remote TV dan menyetelnya.
Saat TV sudah menyala,
tanpa disengaja, acara yang sedang disiarkan channel Trans 7 adalah acara “Orang Pinggiran”
Mataku tertuju pada
acara yang sebenarnya aku sama sekali tidak tertarik. Tanpa disuruh, mataku
melihat seorang anak kecil laki-laki hidup tanpa merasakan kasih sayang
orangtua dan harus tinggal bersama kakeknya yang sudah berumur 80 tahun. Dia
masih duduk di bangku SD kelas 3. Anak kecil itu menjadi anak yatim piatu yang
bekerja mencari nafkah untuk biaya pengobatan kakeknya yang sudah tua dan tidak
bisa berbuat apa-apa selain hanya berbaring di atas papan kecil yang menjadi
tempat tidurnya.
Sepulang sekolah, dia
bekerja mencari kotoran hewan, memungutinya, dan mengumpulkannya lalu dijual
kepada produsen perusahaan pupuk. Dia melakukan semua kegiatannya itu setiap
hari. Dia juga berusaha melakukan yang terbaik agar menyenangkan hati kakeknya.
Pada saat jam makan, dia dan kakeknya hanya bisa makan sisa nasi dan daging
ayam dari produsen pembuatan pupuk, dan terkadang, dia dan kakeknya hanya bisa
makan nasi yang dicampuri garam.
Walaupun dia masih
belia, tapi dia tidak kenal lelah, tidak kenal dengan yang namanya menyerah.
Karena dia masih punya mimpi untuk menjadi dokter, dan dia yakin segala sesuatu
tidak ada yang mustahil.
Tayangan itu membuatku
perlahan meneteskan air mata. Aku terharu. Aku menangis tersedu. Siapa sangka?
Siapa sangka, anak kecil kelas 3 SD tanpa orangtua sudah bekerja mencari uang
untuk kelangsungan hidupnya dan kakeknya? Aku tidak. Aku ngga bisa
membayangkan, bagaimana sulitnya hidup anak kecil itu jikalau kakeknya
meninggalkan dia. Aku ngga bisa membayangkan bagaimana caranya dia untuk dapat
bertahan dengan kondisi seperti itu.
Aku sadar. Aku harusnya
bersyukur sama Tuhan. Aku masih mempunyai orangtua, masih bisa merasakan kasih
sayang mereka, masih bisa makan lauk yang enak, semua kebutuhanku dicukupkan,
dan ngga perlu bekerja. Aku tak pantas marah pada Mama. Aku tak pantas
mengeluh. Aku berdosa. Aku pun langsung berdoa, memohon ampun dan bersyukur
atas semua yang sudah Tuhan berikan untukku.
“Bapa di dalam Kerajaan Surga. Aku memohon ampun
pada-Mu. Aku berdosa. Aku tadi membentak Mamaku. Aku minta maaf karena
seharusnya aku tidak begitu. Tolong ampuni aku. Harusnya aku bersyukur masih
memiliki Mama dan Papa di hidupku, masih bisa merasakan kasih sayang mereka,
masih bisa makan, kebutuhanku semua tercukupi tanpa harus bekerja. Aku tau aku
bersalah, maka dari itu tolong ampuni aku. Tolong ubah hidupku menjadi yang
baru. Menjadi anak yang bisa bersyukur atas segala sesuatu yang aku miliki. Bapa,
mungkin di luar sana masih banyak yang ingin menjadi aku, menginginkan
kehidupan yang layak seperti yang aku rasakan, berkati mereka Bapa, lindungi
mereka dimanapun dan kapanpun mereka berada. Berikan berkat yang melimpah pada
mereka dan tolonglah jika ada sesuatu yang akan terjadi pada mereka nantinya.
Dalam nama Tuhan Yesus, aku sudah berdoa. Amin!”
Setelah selesai berdoa,
aku keluar kamar dan menemui Mamaku. Aku memeluk Mama dan meminta maaf padanya.
“Maa, aku minta maaf
yaa.Aku tadi jahat sama Mama. Aku mau berubah kok. Aku mau menjadi anak yang
turut sama Mama. Jadi anak yang bisa bersyukur untuk segala sesuatu. Bersyukur
karena Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk bisa memiliki Papa dan Mama.
Maaf ya, Ma” peluk dan sesalku.
“Iyaa, Herlin. Mama
maafin kamu kok. Sekarang kamu makan yaa, kamu pasti lapar” ucap Mama lembut
mengelus rambutku.
“Iya Maa. Makasih yaa,
Ma” kataku.
Terlihat raut wajahnya
melebarkan bibirnya, Mama senang sekali. Mama tau dan yakin bahwa Tuhan akan
mengubah hidupku. Mama tau Tuhan akan campur tangan dan membantuku untuk
menjadi yang baru.
Mungkin banyak temanku memiliki
semua barang yang diinginkan, tapi aku tidak bisa mencapainya dengan mudah. Aku
tidak kaya. Aku tidak memiliki rumah yang mewah dan harta yang melimpah. Tapi
aku yakin, aku kaya di dalam Tuhan.
‘No matter how good or
bad you think life is, wake up each day and be thankful for life. Someone
somewhere else is fighting to survive. Dear God, thankyou for everything J’
Tamat
Cerpen ini hanyalah cerita fiktif belaka. Saya mohon maaf apabila ada kesamaan ide dengan cerita saya. Thanks for reading ^^
HK

Tidak ada komentar:
Posting Komentar