Jumat, 17 Juli 2015

Life Is Fair

Lihatlah
Dunia itu adil
Hidup itu wajar sebagaimana adanya
Yang miskin jadi kaya
Yang kaya jatuh miskin
Penyakit dipatahkan
Kebodohan dihancurkan
Keangkuhan dijatuhkan
Roda hidup terus berputar
Mungkin hanya kau yang merasa
Syukur tak pernah keluar dari mulutmu
Sepatah katapun tak kau ucapkan
Keluhan yang terus berlanjut
Rengutan di wajahmu
Ambekan dan amarah menyala
Tanpa penyebab
Mungkin kau merasa seperti anjing mati
Karena sekali kemenangan
Seribu kali keangkuhan
Sekali kekalahan
Seribu kali keluhan tak terima
Kau menjadi diam, beku, kaku
Tak berdaya
Mungkin gila karena harta
Mungkin stress karena pendidikan
Merasa tak berguna
Karena tak pernah kehilangan
Tapi kau salah
Sedari dulu, takkah kau berpikir
Hidup begitu indah?
Pikirkanlah itu!


08 May 2015


HK

Sabtu, 11 Juli 2015

Believe on Instinct

Haluuuu! Lama sekali tak berjumpa. Akhir-akhir ini aku ((ngga)) sibuk, lagi di Surabaya sedang menikmati liburan yang menyenangkan ((hehehe)). Hampir 1 bulan yah uda ga post. Mau post tapi, ah, nanti aja deh, nikmati dulu liburannya 😂
Post kali ini maunya sih flash fiction, tapi gatau masuk kategori atau ga. Coba aja deh yah.
Selamat membaca! 😊😊😊



"Believe On Instinct"

Bunyi bel sekolahku berbunyi. Seluruh siswa SMA keluar riuh dari kelasnya lalu berkumpul bersama geng-nya. Beginilah anak sekolahan. Ber-geng. Aku pun bersama geng-ku. Geng kami berjumlah 6 orang. Hanya saja yang 1 baru pulang dari berangkat.

Kami janjian untuk makan bersama di suatu tempat. Di situ juga temanku yang 1 ikut berkumpul.
Setibanya di sana, dia membawa oleh-oleh untuk kami. Dia membawa 4 lembar baju baru khas Yogyakarta yang masih tersimpan rapi dalam sebuah plastik. Masing-masing sudah diberi nama dan semua sudah dapat kecuali aku. Aku terlupakan oleh temanku ini. Aku tak masalah tidak mendapat baju, tapi masakan dia tidak mengingat bahwa aku juga masuk dalam gengnya? Apakah dia pikir baju itu tidak berguna untukku? Ah sudahlah!
"Maaf, aku tidak ingat kalau kau juga ada. Aku membelinya pas-pas-an. Maaf yah" ucapnya malu.
Semua saling bertatapan. Aku hanya bisa memalsukan senyumanku.
Pikiranku jadi berkelamut. Ada apa ini? Aku seperti kehilangan jiwa kesadaranku. 'Lupakanlah', pikirku.

Setelah kami selesai makan, kami hendak kembali ke sekolah untuk meminta jemput di sana. Kami melewati zebra cross. Kami berada di jalur yang tepat. Tapi, kendaraan motor melaju ke arahku. Aku tak kuasa menghindarnya karena gas ditancapnya begitu cepat.
Temanku kaget bukan kepalang. 
Melihat jalanan penuh dengan darah yang mengalir dari kepalaku. Aku terlentang tak berdaya di tengah jalan. Disambut panikan dan kejutan tak terkira oleh semua orang. Rambutku basah berwarna merah. Seragam putihku perlahan berganti merah pula. Jantungku tak terasa detaknya. Aku korban tabrak lari akan segera dikuburkan 2 hari ke depan.
Mungkin benar, baju itu tak ada gunanya jika dia berikan kepadaku.



HK