Sabtu, 30 Mei 2015

UAS

Gaes, besok yang kelas 7 dan 8 pada ulangan. Termasuk diriku, azek. Jadi doi-in yah eh salah doain yah supaya nilai pada bagus-bagus, tinggi-tinggi, juga bisa juara 1 lagi. AMEN.
Selama 1 pekan ke depan, harus di depan buku. Harus belajar dan nguras otak. Ini ulangan semester 2, harus bener-bener belajar, penentuan naik kelas atau ga. Moga semuanya pada naik kelas deh yah. AMEN.
Jadi hari Jumat dan Sabtu kayanya ga bisa ngepost. Tapi diusahain hari Minggu bisa ngepost hal-hal yang (semoga) menarik lagi. Doain yah. Biar bisa ngebahagiain dan banggain banyak orang, gitu. Iya gitu.
Jangan malas! Fighting, fella! Yes, we can ♡


HK




Sabtu, 23 Mei 2015

Thanks God

Kali ini mungkin post-nya sedikit berbeda dari biasanya. Ngepost cerpen ga apa lah yah hahaha.. Tau kan yah cerpen itu apa? Yap! Cerita Pendek.
Cerpen ini sebenarnya aku buat waktu masih kelas 3 SD, cuman yah taulah gimana kalau anak SD buat cerita sedikit amburegul. Jadi aku revisi dan lumayanlah wkwk

Judulnya Thanks God. So, here u go..



Thanks God

Terik matahari berada hampir di sebelah barat. Tepat pukul 02.00 PM, aku baru pulang dari sekolah dijemput oleh Papaku. Sesampainya aku di rumah, aku mengucap salam kepada Mamaku.
“Ma, aku pulang..” kataku sambil melempar tas ransel yang berat itu di sofa.
“Wah anak mama uda pulang. Herlin sudah makan kah?” tanya Mama lembut.
“Belum, Ma. Emang, Mama hari ini masak apa? Soalnya aku lapaaarr bangett, tadi pagi lupa sarapan, di sekolah cuman makan Chitato 1 bungkus” kataku segera ke dapur.
”Mama kan uda sering bilang, kamu harus sarapan setiap hari, agar perut kamu tidak kosong dari semalaman tidur. Mama masak tahu goreng, tempe goreng, ikan goreng, dan sayur bayam. Mama juga ada buat sambal kesukaan kamu loh. Ikan goreng kalau dimakan dengan sambal pasti enak, soalnya tadi Mama sudah makan ikan pakai sambal” kata Mama menghampiriku.
 “HAH? Iiih, aku ngga mau makan kalau gituu. Padahalkan, tadi aku ngehayalin hari ini Mama masak ayam goreng, sekalinya Mama masak makanan begituu, aku kan ga suka!” bentakku.
 “Kamu harus makan kalau tidak kamu akan sakit. Ayolah coba makan sedikit saja, pasti enak” kata Mama.
 “Ngga, aku ngga mau makan!” bentakku sekali lagi sambil berlalu masuk ke kamar.
Mama hanya terdiam. Mama tau dan mengerti sikapku yang ambekan dan ngga tahu menahu usaha seseorang terhadap diriku. Aku lain dari pada yang lain. Aku anak satu-satunya yang paling buruk dalam segi sifat dibanding keempat kakakku.


***

 “Lapaarr, yaelahh. Kalau tau begini mah mending makan di skolah ajaa. Sedih yaa punya orangtua yang sulit punya waktu untuk masak makanan yang enak sperti anak-anak lainnya” ucapku sambil mengambil remote TV dan menyetelnya.
Saat TV sudah menyala, tanpa disengaja, acara yang sedang disiarkan channel  Trans 7 adalah acara “Orang Pinggiran”
Mataku tertuju pada acara yang sebenarnya aku sama sekali tidak tertarik. Tanpa disuruh, mataku melihat seorang anak kecil laki-laki hidup tanpa merasakan kasih sayang orangtua dan harus tinggal bersama kakeknya yang sudah berumur 80 tahun. Dia masih duduk di bangku SD kelas 3. Anak kecil itu menjadi anak yatim piatu yang bekerja mencari nafkah untuk biaya pengobatan kakeknya yang sudah tua dan tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya berbaring di atas papan kecil yang menjadi tempat tidurnya.
Sepulang sekolah, dia bekerja mencari kotoran hewan, memungutinya, dan mengumpulkannya lalu dijual kepada produsen perusahaan pupuk. Dia melakukan semua kegiatannya itu setiap hari. Dia juga berusaha melakukan yang terbaik agar menyenangkan hati kakeknya. Pada saat jam makan, dia dan kakeknya hanya bisa makan sisa nasi dan daging ayam dari produsen pembuatan pupuk, dan terkadang, dia dan kakeknya hanya bisa makan nasi yang dicampuri garam.
Walaupun dia masih belia, tapi dia tidak kenal lelah, tidak kenal dengan yang namanya menyerah. Karena dia masih punya mimpi untuk menjadi dokter, dan dia yakin segala sesuatu tidak ada yang mustahil.
Tayangan itu membuatku perlahan meneteskan air mata. Aku terharu. Aku menangis tersedu. Siapa sangka? Siapa sangka, anak kecil kelas 3 SD tanpa orangtua sudah bekerja mencari uang untuk kelangsungan hidupnya dan kakeknya? Aku tidak. Aku ngga bisa membayangkan, bagaimana sulitnya hidup anak kecil itu jikalau kakeknya meninggalkan dia. Aku ngga bisa membayangkan bagaimana caranya dia untuk dapat bertahan dengan kondisi seperti itu.
Aku sadar. Aku harusnya bersyukur sama Tuhan. Aku masih mempunyai orangtua, masih bisa merasakan kasih sayang mereka, masih bisa makan lauk yang enak, semua kebutuhanku dicukupkan, dan ngga perlu bekerja. Aku tak pantas marah pada Mama. Aku tak pantas mengeluh. Aku berdosa. Aku pun langsung berdoa, memohon ampun dan bersyukur atas semua yang sudah Tuhan berikan untukku.
“Bapa di dalam Kerajaan Surga. Aku memohon ampun pada-Mu. Aku berdosa. Aku tadi membentak Mamaku. Aku minta maaf karena seharusnya aku tidak begitu. Tolong ampuni aku. Harusnya aku bersyukur masih memiliki Mama dan Papa di hidupku, masih bisa merasakan kasih sayang mereka, masih bisa makan, kebutuhanku semua tercukupi tanpa harus bekerja. Aku tau aku bersalah, maka dari itu tolong ampuni aku. Tolong ubah hidupku menjadi yang baru. Menjadi anak yang bisa bersyukur atas segala sesuatu yang aku miliki. Bapa, mungkin di luar sana masih banyak yang ingin menjadi aku, menginginkan kehidupan yang layak seperti yang aku rasakan, berkati mereka Bapa, lindungi mereka dimanapun dan kapanpun mereka berada. Berikan berkat yang melimpah pada mereka dan tolonglah jika ada sesuatu yang akan terjadi pada mereka nantinya. Dalam nama Tuhan Yesus, aku sudah berdoa. Amin!”
Setelah selesai berdoa, aku keluar kamar dan menemui Mamaku. Aku memeluk Mama dan meminta maaf padanya.
“Maa, aku minta maaf yaa.Aku tadi jahat sama Mama. Aku mau berubah kok. Aku mau menjadi anak yang turut sama Mama. Jadi anak yang bisa bersyukur untuk segala sesuatu. Bersyukur karena Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk bisa memiliki Papa dan Mama. Maaf ya, Ma” peluk dan sesalku.
“Iyaa, Herlin. Mama maafin kamu kok. Sekarang kamu makan yaa, kamu pasti lapar” ucap Mama lembut mengelus rambutku.
“Iya Maa. Makasih yaa, Ma” kataku.
Terlihat raut wajahnya melebarkan bibirnya, Mama senang sekali. Mama tau dan yakin bahwa Tuhan akan mengubah hidupku. Mama tau Tuhan akan campur tangan dan membantuku untuk menjadi yang baru.
Mungkin banyak temanku memiliki semua barang yang diinginkan, tapi aku tidak bisa mencapainya dengan mudah. Aku tidak kaya. Aku tidak memiliki rumah yang mewah dan harta yang melimpah. Tapi aku yakin, aku kaya di dalam Tuhan.

‘No matter how good or bad you think life is, wake up each day and be thankful for life. Someone somewhere else is fighting to survive. Dear God, thankyou for everything J


Tamat



Cerpen ini hanyalah cerita fiktif belaka. Saya mohon maaf apabila ada kesamaan ide dengan cerita saya. Thanks for reading ^^




HK

Jumat, 15 Mei 2015

I'm Your Secret Admirer

Senyummu, tawamu
Suara beratmu
Aku kangen itu
Kau memanggil namaku
Kau menepuk pundakku
Tak kukira kau bisa lakukan itu
Tahan aku
Aku terlalu bergembira
Mungkin bisa melayang
Terbang jauh bersama layang-layang
Bisakah itu diulang?
Aku kangen
Kau berbicara padaku
Kau tersenyum padaku
Melambaikan tanganmu ke arahku
Memanggil namaku
Bahkan, ketika kau menatapku
Mengenalmu lebih dalam
Itu yang kuiinginkan
Tapi
Apa mungkin?
Kau akan beranjak dewasa
Berpisah sekolah
Tak akan mungkin
Apa aku harus melepasmu?
Ah, kau terlalu indah
Kau spesial untukku
Kau istimewa bagiku
Sulit untukku melepasmu
Melepasmu bagaikan layangan limbong
Tak tentu arah
Namun tetap diambil orang
Aku bingung



HK

Sabtu, 09 Mei 2015

Monolog: Cara Mengatasi Demam Panggung

Hai!! Aku waktu itu ada janji kan yah cara mengatasi demam panggung pada saat ber-monolog? :))
Here we go..

1. Berlatihlah cara berbicara/bermonolog kalian di depan umum
2. Rileks
3. Apabila kalian merasakan yang namanya gugup, maka hembuskanlah nafasmu
4. Lihatlah alis mata mereka seolah-olah kalian sedang menatap para penonton
5. Pada saat monolog, janganlah hanya berdiam diri di tempat saja, tapi sambillah kalian berjalan-jalan di depan penonton dengan menggunakan ekspresi "wah" sehingga mereka terkesan
6. Jangan menghafal. Menghafal akan membuatmu lupa akan semua teks yang sudah kamu buat
7. Lebih bagus tidak membawa teks, buat kata-kata sendiri aja
8. Ambil perhatian para penonton. 
Kalau ekspresi marah, marahilah mereka seolah-olah mereka melakukan kesalahan. Tapi ingat, jangan sampai kelebihan batas. Kalau puisi, kalian harus benar-benar menguasai setiap kata dan berlatih dalam penghayatan
9. Penghayatan dan nada bermonolog harus sesuai dengan isinya. Kalau monolognya marah-marah, usahakan mengeluarkan emosi yang luar biasa.Kalau sedih, menangislah jika perlu. Apabila penonton sudah terkesan dan terbawa suasana, kamu dinilai sudah berhasil membuat penonton terhayut dalam monolog kamu
10. Gunakanlah bahasa sehari-hari

Itu sih yang uda aku terapkan dan Puji Tuhan berhasil. Aku berhasil membuat mereka terkejut lalu menangis. Haleluya! Bagaimana denganmu? Siapkah kamu menerapkan sesuai dengan dirimu sendiri? ((:
Semoga bermanfaat!


HK

Sabtu, 02 Mei 2015

Unfair

Kuberi kau perhatian
Kuberi cinta dan kasih sayang
Apa itu salah?
Apa aku salah menyanjungmu?
Apa aku salah mengagumimu?
Apa aku tak boleh menyukaimu?
Apa aku tak pantas menghawatirkanmu?
Setiap saat aku menatapmu
Namun tak ada balasan
Tak ada senyum ke arahku
Seakan-akan aku adalah sampah
Lalu kau pergi menjauh
Kau pergi jauh dan menghilang
Tanpa melihat ke arahku
Aku mencari kemana-mana
Namun jejakmu tak ada
Seolah-olah kau tak menginjakkan kakimu ke tanah
Kau pergi
Kau hilang bagaikan ditelan bumi
Aku tak tau maksudmu
Kenapa?
Karena ada urusan?
Karena ada panggilan?
Atau, karena aku?
Karena tak ingin melihatku?
Karena tak ingin menemuiku?
Apa hilangku, yang akan membuatmu senang?
Apa pergiku yang membuatmu gembira?
Apa itu yang membuatmu bergairah dan kembali?



HK